English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

this widget by www.AllBlogTools.com

Jumat, 19 November 2010

Sulawesi #8 - Mujizat Meko - Poso - Toraja

RUNTUHNYA TEMBOK GEREJA
Refleksi Eklesiologis Pemulihan Umat Allah Di Meko

by Asyer Tandapai[1]


Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya.
(Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, Dan Islam Selama 4.000 Tahun, Bandung: Mizan, 2002, hlm. 27).

Demikian Maklumat Karen Armstrong dalam tulisannya menelusuri sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan. Pernyataan Armstrong dapat juga disebut sebagai antitesis terhadap universalisme Allah bahwa “Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi”  mengalami penyempitan makna oleh tafsir subjektif seolah-olah Allah hanya berkuasa pada agama atau gereja tertentu saja. Sepanjang sejarah kehidupan manusia beragama, tafsir tentang kekuasaan Tuhan mengalami pengakuan yang telah menempatkan kehidupan umat manusia pada dua kutub berbeda dan pada waktu-waktu tertentu perjumpaannya satu sama lain dipersepsi sebagai benturan peradaban (Clash of Civilizations).

Pada tulisan ini, akan diupayakan suatu refleksi eklesiologis (makna menggereja) sebagai apresiasi atas fenomena pemulihan umat manusia yang terjadi kurang lebih lima bulan terakhir di kampung Meko, Kecamatan Pamona Barat, Tana Poso. Bagi mereka yang sempat melakukan ziarah ke Meko, tentunya ada rumusan iman yang berbeda sebagai pengalaman spiritual. Karena itu dengan perasaan hormat atas keragaman refleksi, perkenankan tulisan ini mencoba melihatnya dalam perspektif yang mungkin berbeda dari pengalaman iman masing-masing orang, terlebih dengan pemilihan judul “Runtuhnya Tembok Gereja” yang terkesan provokatif. Hal yang ingin dicapai dari tulisan ini, bahwa Keajaiban Dunia awal abad ini yang sedang berlangsung di Meko ditempatkan dalam kerangka fungsi eklesia, utamanya melihat relasi umat Allah berbeda agama yang turut serta dalam ziarah spiritual tersebut. Juga dapat menambah literatur dalam bahasa tulis, sebagaimana yang telah lebih dahulu dilakukan kawan lain.


Meko Kota Kecil Yang Damai

Dalam waktu relatif lama, Meko hanyalah sebuah perkampungan kecil yang dihuni sekelompok masyarakat petani sawah. Mereka berasal dari kampung Dulumai, Peura, Tolambo di Wilayah Timur Danau Poso. Di kampung-kampung ini lahan persawahan mereka sangat terbatas, karena itu mereka secara berkelompok menyeberang dengan perahu motor (katinting) ke bagian Barat Danau Poso mencari perluasan lahan persawahan. Proses perluasan dan penguasaan lahan ini dalam bahasa Pamona-Poso di sebut Mekoho, sementara Tanah yang dikuasai disebut Tana nda-Koho. Inilah cikal bakal identitas wilayah yang sekarang disebut Meko.  Awalnya, masyarakat petani ini hanya berdiam sementara antara hari Senin hingga Jumat lalu pada hari Sabtu kembali ke kampung masing-masing untuk mengikuti ibadah minggu (bergereja). Demikian rutinitas mereka bertahun-tahun, lalu perlahan-lahan mereka membangun tempat tinggal dan hidup menetap di Meko dan terbentuklah satu dusun kecil yang menjadi bagian dari wilayah Pemerintahan Kecamatan Pamona Selatan yang berkedudukan di Pendolo.

Sekitar tahun 1980-an, sekelompok warga transmigran asal Pulau Bali ditempatkan oleh Pemerintah Pusat di Kampung Toinasa (sekitar 4 Kilometer dari Meko), lalu kemudian seorang demi seorang berpindah mencari perluasan lahan pertanian di Meko. Di antara warga Bali ada juga yang berasal dari Tolai daerah Parigi-Moutong dan dari Kertoraharjo di Luwu Timur.  Dengan ketekunan dan keterampilan mereka dalam bidang pertanian secara ekonomi Meko tumbuh menjadi kantong produksi pertanian sawah yang besar di Kecamatan Pamona Selatan. Kemudian dalam perkembangannya sebagai dampak dari kenaikan harga Kakao (booming) lalu sebagian lahan persawahan disulap menjadi kantong produksi Kakao.

Pada tahun 1990-an, warga masyarakat pencari tanah asal Tana Toraja juga menjelajahi wilayah yang subur tersebut. Mereka membuat pemukiman yang oleh masyarakat lokal disebut Meko Atas, artinya menunjuk pada wilayah pemukiman komunitas Toraja yang lebih dekat ke kaki bukit. Sebelum kerusuhan di Poso tahun 1998, terdapat juga persebaran komunitas Bugis dan umumnya mereka hadir sebagai pedagang. Namun eskalasi kerusuhan sosial ketika itu, keluarga-keluarga Kristen melindungi dan mengantar mereka untuk sementara meninggalkan Meko demi mencegah aksi kekerasan yang kemungkinan dapat dilakukan siapa saja.

Dari gambaran persebaran warga masyarakat yang bermukim dapat disebut bahwa Meko adalah persemaian indahnya kehidupan yang damai atas keragaman budaya manusia. Kampung kecil yang dapat dijadikan cermin terkelolanya kesadaran pluralitas kehidupan di Tana Poso. Melalui semangat pemerintahan otonomi daerah pada Era Reformasi, Dusun Meko kini berubah status menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Pamona Barat sebagai hasil pemekaran wilayah pemerintahan dari Kecamatan Pamona Utara yang berpusat di Tentena dan Kecamatan Pamona Selatan berpusat di Pendolo.

Meko kota kecil tempat persemaian hidup damai yang terletak di bagian Barat tepian Danau Poso dapat dicapai melalui dua arah berlawanan. Dari wilayah Selatan tiba di Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, bergerak ke arah Barat menyusuri jalan berliku kurang lebih 30 kilometer dan tanjakan terjal yang menambah keindahan panorama Danau Poso. Dan dari wilayah Utara, Palu, Luwuk tiba di kota Tentena, Kecamatan Pamona Utara, lalu mengikuti perjalanan, sekitar 27 kilometer, ke arah Barat. Di titik perjumpaan kedua jalur tersebut akan ditemukan ribuan peziarah spiritual yang datang silih berganti setiap minggu dengan kemah-kemah yang terhampar di Tanah Lapang yang sekalipun becek, lorong-lorong jalan hingga pelataran rumah warga.


Terpilih Sebagai Alat Pemulihan Kemanusiaan

Keluarga Bungge-Sologi, demikian kearifan orang Poso menyebut identitas satu keluarga, membina keluarga bertahun-tahun dalam kesederhanaan hidup sebagaimana lazimnya kehidupan keluarga para guru di Indonesia. Alfons Bungge berasal dari kampung Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, menemukan kekasihnya Mariati Sologi dari wilayah Lage, Kecamatan Lage-Poso lalu kesepakatan mereka untuk hidup bersama dimeteraikan dalam ikatan pernikahan yang dikarunia empat orang anak dengan masing-masing panggilan akrab, Iin, Yesi, Opel dan si bungsu Selvin. Putri bungsu mereka, Selvin Bungge, di usia menjelang 9 tahun, semoga kita dapat menerima untuk menyebutnya: “Dipilih sebagai Alat Pemulihan Kemanusiaan[2]”. (Istilah kemanusiaan dalam tulisan ini memiliki makna yang sama dengan Umat Allah karena itu dipergunakan secara bergantian). Dari latar belakang kampung halaman tempat asal mereka dilahirkan dan besar, dapat dikatakan bahwa keluarga Bungge-Sologi menurut strata sosial masyarakat di Poso, berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada di pusat kekuasaan (feodalisme tradisionil). Dan mereka sekeluarga berada di Meko karena mengikuti panggilan Negara untuk mengabdi sebagai pelayan masyarakat, khususnya menjadi pendidik bagi generasi masa depan yang akan membangun peradaban manusiawi di Tana Poso.

Hari Kamis, 26 April 2007, saya berada di satu kampung yang sedikit jauh dari Meko dan menyaksikan arus kendaraan yang tak putus-putusnya sepanjang hari hingga malam menuju tempat berlangsungnya peristiwa luar biasa tersebut. Arus kendaraan dengan berbagai nomor kepolisian wilayah berbeda-beda. Mungkin dapat dikatakan semua kode wilayah kendaraan di Sulawesi terlihat, dari Kalimantan, Surabaya, Jakarta. Bahkan pada Hari itu juga terlihat satu unit Mobil Wisata Besar dari Pelabuhan Udara Hasanuddin - Makassar yang mengantar peziarah dari Hongkong, Singapura, Korea dan Malaysia. Menurut Data di Pos Lingkungan yang mendata semua kendaraan yang masuk dan keluar dari Meko, bahwa lebih dari 700 unit kendaraan yang datang ke Meko pada hari Kamis tersebut.

Mobilitas masyarakat dari berbagai penjuru dunia dan antusiasme warga yang saling menceriterakan pengalaman iman mereka, semakin memperkuat keinginan untuk ikut dalam iring-iringan peziarah. Sekalipun sebagai bagian dari komunitas Poso, inilah untuk pertama kalinya saya ke Meko untuk menyaksikan peristiwa akbar tersebut yang disertai sejumlah tanya dan pergumulan bahwa apakah moralitas dipersoalkan. Prasyarat etik hidup sebagaimana yang diceritakan oleh banyak teman menjadi bayang ketakutan pada harga diri untuk tidak ditegur (dipermalukan). Menurut pengalaman banyak orang, persoalan moral-etik menjadi hambatan untuk menerima karunia pemulihan. Misalnya, berselisih dengan orang tua, saudara atau orang lain. Pecandu Alkohol, Rokok dan lain sebagainya. Pada kenyataannya persoalan moral-etik ini bukan hanya ditujukan kepada warga jemaat tetapi juga kepada Pendeta yang notabene dipersepsi sebagai simbol moral masyarakat.  

Menjelang malam, saya berjalan melewati lorong antar kemah yang hanya cukup untuk melangkah dengan hati-hati, agar tidak menginjak kaki atau kepala para peziarah, yang sekadar merebahkan tubuh karena keletihan melakukan perjalanan panjang. Pada setiap kemah yang penuh sesak oleh peziarah, hampir tidak dapat dikenali mana Islam dan Kristen, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat jelata, warna kulit dan suku bangsa. Semuanya hidup menyatu dalam satu kemah beralas tikar atau karpet sekadarnya untuk memisahkan kulit mereka dengan tanah yang becek. Peziarah yang datang kemudian dan tidak lagi mendapat tempat untuk membangun kemah, berjalan mohon menumpang pada kemah kelompok lain sekalipun hanya sekadar dapat merebahkan kepala. Terlihat suasana akrab, saling menyapa seolah-olah mereka adalah keluarga dan telah kenal satu sama lain. Kehidupan kemah telah mempersekutukan satu keluarga besar dalam persaudaraan untuk saling membagi yang ada pada mereka. Dan hampir pada semua kemah tergeletak sejumlah orang yang menderita berbagai penyakit sehingga terlihat kesibukan sanak keluarga memberi dorongan spiritual kepada para penderita dengan harapan mendapat berkat pemulihan.

Di pelataran rumah keluarga Bungge-Sologi dibangun sebuah kemah besar tempat persekutuan umum. Pada bagian depan, terdapat sebuah mimbar kecil tempat di mana setiap orang yang tergerak hatinya memberi kesaksian dan puji-pujian. Menjelang jam 24.00 (Jam 12 tengah malam) ibu Mariati Sologi mengambil alih seluruh acara. Dan, dalam waktu bersamaan terlihat sebuah mobil mendekat di kemah tempat persekutuan. Menurut bisik-bisik di antara umat, bahwa Dokter Kecil tiba entah bermain di mana seharian. Dokter Kecil adalah sebutan banyak orang kepada anak kekasih Selvin Bungge. Sebagai sambutan awal permulaan ibadah menurut tatacara Kekristenan, ibu Mariati meminta kepada semua saudara-saudara Muslim untuk melakukan Sholat Tahajud pada Balai Desa yang telah dikhususkan bagi saudara-saudari Muslim, untuk setiap saat dipakai menunaikan sholat lima waktu selama berada di Meko. Kemudian, ibadah dalam tuntutan liturgis sederhana dan fleksibel; Puji-Pujian - Membaca Firman - diakhiri dengan Doa Bapa Kami. Seterusnya puji-pujian hingga menjelang pagi.

Jam 07.00 pagi, tanggal 27 April 2007, entah hanya beberapa saat memejamkan mata, sementara puji-pujian terus bergema: "Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara, Allah-Ku Maha Kuasa. Kau Ciptakan Seisi Bumi Atur Sgala Masa, Allah-Ku Maha Kuasa." Ibu Mariati kembali melakukan fungsi pelayanannya di kemah besar untuk ibadah penjamahan yang akan dilangsungkan hingga jam 19.00 (jam 07 malam) waktu Indonesia Tengah. Silih berganti antrian panjang peziarah mendapat jamahan.

Keajaiban dunia di Meko yang mempersekutukan umat manusia yang berbeda agama, suku bangsa menyisakan kegelisahan iman dan nalar sehingga memaksa saya kembali melakukan ziarah pada 17 Mei 2007, yang menurut kalender Gerejawi dirayakan sebagai hari Kenaikan Yesus Kristus Ke Surga. Sulit melukiskan suasana hari itu. Pos Lingkungan yang disediakan khusus untuk mendapatkan layanan informasi dan mendata keluar-masuk semua kendaraan hampir tidak berdaya melakukan fungsinya. Misalnya, ketidakberdayaan mengatasi arus kendaraan sehingga terjadi kemacetan lalulintas berjam-jam. Termasuk anak kekasih Selvin Bungge semalaman harus tidur di atas kendaraan yang ditumpanginya karena terhalang kemacetan. Tidak ada data pasti jumlah kendaraan yang berjejer di Meko pada hari itu; ada yang mengatakan sekitar 1200 dan 3200 unit mobil. Dari pengalaman ribuan peziarah, kita mendapat informasi bahwa ada di antara mereka yang harus berjalan 7 kilometer, batas terakhir kendaraan mereka, menuju pusat peribadatan. Secara manusiawi saya dapat merasakan bila ada di antara para peziarah yang merasakan kekecewaan. Ada banyak faktor penyebab, antara lain sengatan matahari pada siang itu dan hujan lebat pada malam harinya atau ketidakmampuan para penjual makanan masak untuk melayani kebutuhan banyak orang. Bagi saya dua peristiwa alam, panas terik dan hujan lebat, memiliki makna dalam konteks kepadatan manusia di Meko ketika itu. Dalam suasana itu, dengan mengambil perbandingan konser-konser yang dipadati banyak orang dan dibayangi kerusuhan sekalipun oleh persoalan sepele, saya merenungkan makna dari sikap tegas ibu Mariati Sologi, mama Selvin, untuk tidak merokok atau minum alkohol sebagai prasyarat ibadah penjamahan. Bahkan mungkin banyak di antara peziarah yang tidak mendapat jamahan atau tidak dapat melihat sedikitpun anak Selvin yang menjadi kerinduan untuk ke Meko.

Di tengah-tengah lautan hilir mudik para peziarah, ada kisah yang harus dan sengaja diungkapkan sebagai renungan mendalam dalam tulisan ini yaitu Penampakan Wajah Yesus di Atas Danau Poso menjelang peringatan Kenaikan Yesus ke Surga. Peristiwa itu secara tidak sengaja terekam oleh kamera salah seorang peziarah dari Sulawesi Selatan. Peziarah tersebut bermaksud mengambil gambar Panorama Danau Poso di atas Bukit (masyarakat lokal menyebutnya Pada Marari). Alangkah tergugahnya keberimanan bahwa setelah mengambil gambar dan memperhatikan hasilnya yang tampak adalah sosok wajah Yesus, seakan keluar dari perut bumi dan dengan tangan terbuka menghadap ke Meko. Adakah pesan dari peristiwa ini ?

Sepuluh hari setelah peringatan Kenaikan Yesus, ada peringatan penting dalam Kalender Gerejawi yaitu Hari Pentakosta. Hari Pentakosta diperingati oleh gereja sebagai hari ketuangan Roh Kudus sekaligus pertanda pembentukan komunitas umat percaya dalam bimbingan Roh. Pada hari-hari menjelang perayaan tersebut, sebagaimana kebiasaan budaya tutur, saya berada di Pos Lingkungan di antara para pemimpin masyarakat Kecamatan Pamona Barat; pak Camat, bapak Kepala Kepolisian Sektor dan beberapa tokoh masyarakat. Dua hal penting dalam bincang-bincang malam itu. Pertama-tama, mendiskusikan undangan dari Tana Toraja. Salah seorang yang mengalami kesembuhan di Meko, mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk membicarakan bantuan riil masyarakat Tana Toraja kepada masyarakat Meko khususnya dan Poso pada umumnya. Dengan tidak bermaksud mempengaruhi kerinduan mereka, saya coba membagi sedikit gagasan untuk memikirkan kemungkinan masyarakat Tana Toraja yang telah mengalami kemajuan pesat di bidang Sumber Daya Manusia dapat memberi dorongan peningkatan kualitas pendidikan bagi anak-anak Poso yang sudah sangat tertinggal. Gagasan lain sehubungan dengan keajaiban di Meko dirasa perlu membangun monumen; semacam Salib dan Rumah Doa yang kelak dapat dijadikan tempat Ziarah Rohani. Salah satu tempat penting untuk pembangunan monumen adalah Pada Marari. Selain alasan tempat penampakan Wajah Yesus sebagaimana yang disaksikan oleh seorang peziarah dari Sulawesi Selatan, dari kesaksian banyak orang bahwa di tempat tersebut sekitar awal Juni 2006 muncul cahaya terang. Ada yang mengisahkan cahaya tersebut seperti Api Yang Membakar lalu kemudian terangkat kembali ke angkasa. Peristiwa alam ini terjadi pada awal malam (sekitar jam 08 malam) dan berlangsung tiga malam berturut-turut.

Di tengah kami serius saling mendengarkan dan memberi makna rangkaian keajaiban di Meko, menjelang ibadah malam, sekitar jam 11 malam pada 24 Mei 2007, melintas iring-iringan kendaraan yang kelihatannya ditumpangi pejabat penting. Ternyata benar, seorang dari Perwira Tinggi Keamanan yang telah ditempatkan di Jakarta datang mendampingi istrinya yang tidak dapat berjalan. Perwira tersebut mantan Komandan Operasi Cinta Damai Pemulihan Keamanan di Poso yang juga sukses besar meringkus Fabianus Tibo cs yang kemudian dalam proses hukum dijadikan tumbal atas kerusuhan sosial di Tana Poso. Terlihat istri sang Perwira Tinggi tersebut walaupun dalam pengawasan pengawal di beberapa tempat terlibat khusuk dalam ibadah dan puji-pujian. Esok harinya, atas iman yang sungguh dan pertobatan, ibu tersebut mendapat pemulihan atas pelayanan anak Selvin.

Pengalaman istri sang Jenderal yang mengalami pemulihan oleh iman dan pertobatannya menjadi pemandangan menakjubkan di tengah tepukan tangan dan pujian-pujian yang tak henti-hentinya mengekspresikan Kekuasaan Tuhan. Di sana-sini ada suka cita berbasuh air mata menyaksikan orang lumpuh berjalan, orang buta sejak lahir melihat, orang bisu kegirangan memuji Tuhan, orang tuli mendengar, orang lemah dikuatkan imannya. Menurut pengamatan Pdt. Rinaldy Damanik, yang diminta oleh keluarga untuk mendampingi melakukan pelayanan, bahwa pelayanan keluarga akhir-akhir ini yang banyak mengalami kesembuhan adalah saudara-saudari kita muslim. Perasaan takjub pada keajaiban hari itu, semakin mengguncang perasaan dan pikiran untuk mempertanyakan rumusan-rumusan iman mengenai esensi menggereja yang berbeda dengan kenyataan. Realitas keajaiban ini mungkin tidak masuk akal bagi mereka yang hidup dalam kesadaran yang mengandalkan rasionalitas. Saya ingin menyisakan satu catatan perenungan bagi komunitas Poso (baca: GKST) dibanding dengan antusiasme komunitas Toraja, ibarat cahaya Keajaiban Dunia di Meko telah menyilaukan sehingga kurang berfungsi menjadi cahaya yang menuntun. Komunitas yang berada dalam lingkaran cahaya akan larut dalam kemilau sehingga sulit memilah obyek-obyek yang ada disekitarnya.


Sejarah Mentalitas Menggereja

Kota kecil Meko sebagai wilayah yang relatif baru terbuka dengan daya tarik tanah yang subur, menjanjikan perbaikan ekonomi bagi masyarakat petani. Dalam hitungan tahun yang singkat di banding kampung-kampung sekitarnya, Meko mengalami pertumbuhan penduduk dan ekonomi warga yang sangat pesat. Dari sisi pertumbuhan gereja-gereja, Meko merupakan wilayah di mana Gereja dengan segala macam denominasi tumbuh menjamur. Cukup banyak orang yang prihatin menyaksikan cara menggereja karena perbedaan denominasi. Menjamurnya gereja menjadi permasalahan tersendiri dalam tata kemasyarakatan, sebab hampir hanya dalam hitungan langkah saja kita dapat menemukan gedung gereja dengan merek yang berbeda-beda. Ini membawa implikasi dari segi pengajaran, perdebatan dogmatis memberi dampak pada keretakan relasi sosial, bahkan permasalahan dalam lingkungan keluarga. Ada warga gereja melihat bahwa peristiwa besar yang terjadi di Meko membawa pesan kritik untuk mengingatkan cara menggereja bahwa pada realitasnya gereja telah menjadi kekuatan pemecah belah dalam masyarakat dan keluarga.          

Pada sisi lain, Keajaiban Dunia awal abad ini di Meko melahirkan diskusi menarik tentang esensi keberimanan dan bagaimana agama atau gereja memberi refleksi atas pengalaman iman warganya yang ikut dalam ziarah spiritual. Di tengah-tengah arus ribuan peziarah yang setiap minggunya dari segi jumlah semakin menunjukan peningkatan, keajaiban di Meko tetap menyisakan perdebatan teologi di lingkungan gereja. Sebenarnya tema diskusi ini merupakan agenda turun temurun antara gereja arus utama (dapat dibaca juga: Gereja Kristen Sulawesi Tengah) dengan kelompok Kharismatis yakni masalah klaim bahwa Kuasa Roh Kudus hanya bekerja pada gereja tertentu saja. Tetapi hampir tidak ada, atau mengambil sikap hati-hati, yang mendiskusikannya dalam relasi dengan komunitas antariman yang berbeda agama. Tulisan ini mencoba membangun refleksi universalistis tentang Kuasa Allah yang meruntuhkan tembok-tembok (doktrin) menggereja.

Dalam hubungan antar iman, gereja diwariskan mentalitas pola pengajaran yang kurang menghormati kepercayaan lain. Sikap penolakan ini bertolak dari suatu kesadaran bahwa gereja sebagai “societas perfecta” yakni komunitas yang sempurna tidak tercela dan memposisikan komunitas lainnya: Islam, Hindu, Budha, atau kepercayaan lokal sebagai yang sesat. Warisan pengajaran ini telah membentuk cara menggereja, sehingga dalam pertumbuhannya cenderung berpikir untuk kebenaran dirinya sendiri. Bila dicermati secara jujur, pada peristiwa besar di Meko sesungguhnya terjadi perombakan refleksi keberimanan pola seagama dan sedang terbentuk realitas keberimanan dari keragaman agama. Esensi menggereja bertumbuh atas sensitifitas kemanusiaan yang berangkat dari suatu proses sadar diri (self critic) yang melampaui warisan pengajaran yang membelenggu selama ini. Fungsi menggereja kini berada pada suatu pengakuan bahwa Umat Allah dalam keragaman keberimanan adalah esensi identitas menggereja. Karena itu, Kuasa Roh kudus tidak dapat lagi diperalat, klaim otoritas, gereja untuk menghakimi satu sama lain.


Identitas Gereja Transformatif

Pada hakekatnya panggilan menggereja benar-benar diarahkan untuk menjawab masalah umat manusia. Karena itu, masa depan gereja senantiasa akan sangat ditentukan oleh kehadirannya bersama keragaman cara beriman Umat Allah menurut komunitas budaya, agama untuk pemulihan hidup. Kegagalan untuk hadir bersama-sama menjawab beragam permasalahan, dalam perspektif humaniora merupakan tanda kegagalan gereja sebagai alat Kerajaan Allah yang harus mewartakan Cinta – Kasih dan Persaudaraan Umat Allah yang berbeda agama.

Menggugah naluri menggereja dalam kerangka universalitas Umat Allah harus bertolak dari otokritik atas warisan pengajaran yang memperlihatkan bahwa gereja memelihara sebuah tradisi pengajaran yang menciptakan polarisasi pemahaman tentang kesempurnaan komunitas gereja sebagai interpretasi kesucian Allah. Kesadaran ini cenderung, sadar atau tidak, menghasilkan suatu konstruksi sosial pengkotak-kotakkan hidup menjadi dua kutub atau dua dunia yang saling bertentangan satu sama lainnya. Konstruksi menggereja yang melahirkan kesadaran identitas eksklusif sebagai komunitas paling benar dan mengambil jarak terhadap komunitas Islam, Hindu, Buddha dan kepercayaan lainnya yang dipahami sebagai tidak benar merupakan persoalan mendasar bagi gereja. Bahkan pada posisi ini gereja menjadi ancaman terhadap esensi menggereja yang memulihkan sebagaimana diajarkan Yesus.

Salah satu ayat emas yang menjadi klaim eksklusif tafsiran menggereja, “Akulah Jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Tidak ada kekuatiran mempersoalkan bahwa pada diri-Nya Yesus benar-benar Jalan Keselamatan yang dipilih oleh Allah. Namun tafsiran yang diterima dan diperkembangkan gereja sampai hari ini bahwa Yesus adalah jalan demikianlah juga gereja sebagai jalan untuk sampai kepada Allah. Kelemahan konstruksi tafsir tentang Yesus sebagai Jalan adalah ketika mengidentifikasi gereja adalah (blue print) satu-satunya jalan. Di sini gereja harus bertobat! Yang benar bahwa gereja hanyalah alat sebagai pewarta keselamatan, itupun bukan satu-satunya alat. Karena itu dalam silang sengketa hakekat menggereja, hal substansi yang harus dikedepankan bahwa marilah kita kembalikan kekuasaan Allah untuk bebas memilih dan mengerjakan Karya Keselamatan seraya bertanya dalam diri, apakah gereja kita sebagai alat masih berkenan dipakai Tuhan dalam Kuasa Roh-Nya? Ataukah, perdebatan kita hanya menempatkan gereja sebagai institusi yang menjadi penjarah keberimanan (religiusitas) umat.

Adalah suatu fakta bahwa konstruksi menggereja yang kita hidupi pada prinsipnya lahir dari suatu proses sejarah yang cukup kuat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran eksklusif rumusan pengalaman beriman masa silam (Dogmatika Masa Lalu). Dalam konteks relasi antar iman, warisan kemutlakan (klaim) Kekristenan melahirkan persoalan dalam hubungannya dengan Islam yang diposisikan sebagai komunitas beriman yang tidak benar. Bertolak dari latar muka sejarah, gereja perlu melakukan fungsi otokritik, ecclesia reformata semper reformanda, sebagai pendekatan fungsional bagi pengakuan terhadap komunitas lainnya (the others).              

Kekristenan sesungguhnya adalah pengalaman hidup yang terbangun dari refleksi ke-iman-an yang terwujud dalam keragaman, budaya, agama, bahasa yang secara prinsipil merupakan wujud dari tanggapan manusia terhadap yang Ilahi. Berdasarkan isi Kabar Baik yang memuat refleksi tentang penciptaan bahwa Allah telah membentuk manusia menurut gambarNya. Pada berita penciptaan, hakekat kemanusiaan mendapat pencitraan Ilahi. Dalam kesadaran perjumpaan antara pesan Kabar Baik dengan konteks keberagaman komunitas, panggilan menggereja menjadi simbol transformasi identitas untuk melakukan fungsi pembebasan yakni pembebasan dari mentalitas eksklusif menuju ke arah penghormatan martabat kemanusiaan sebagai citra Sang Pencipta. Serta fungsi kritis yakni koreksi terhadap eksklusivisme Kekristenan sebagai klaim representasi kebenaran tunggal ideal ke arah pemaknaan universalitas Umat Allah.

Dalam tata interaksi pergaulan antarindividu maupun komunitas, prinsip dasar kesadaran menggereja yakni komunitas beriman yang membebaskan. Utamanya membebaskan mentalitas menggereja yang sejak awal telah diletakkan dalam bingkai gereja yang membelenggu dan cenderung melahirkan komunitas yang kehilangan sensitivitas kemanusiaan. Konteks interaksi beragam manusia beriman berdasarkan komunitas agama, kultur, etnis, fakta sejarah telah memperlihatkan langgam kehidupan yang mengikuti pola dominasi refleksi teologi dalam klaim “kami benar” dan “mereka salah”. Bertolak dari hakekat manusia penghuni kulit bola dunia, sesungguhnya citra manusia adalah realitas hidup yang satu dan pada derajat yang sama berada dalam ruang dan waktu yang disediakan oleh sang Pencipta. Selanjutnya, dalam perjalanan sebagai rangkaian sejarah, tiap subjek manusia senantiasa berada dalam refleksi yang pada akhirnya menciptakan sekat-sekat budaya dengan strukturnya yang dimaknai sebagai alat untuk kelangsungan hidup. Demikian potret realitas hidup dalam wajah kemanusiaan yang retak pada cermin kehidupan. Ada benarnya apa yang damaklumatkan Karen Armstrong, bahwa Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya. Karen Armstrong mencoba merekonstruksi pikiran tentang Allah dari perspektif refleksi manusia. Keragaman tafsir tentang Allah adalah refleksi dari konteks di mana pergumulan manusia terjadi, sangat dipengaruhi oleh budaya, lingkungan dan relasi sosial di mana komunitas manusia itu hidup. Karenanya konstruksi tentang Allah mengalami pendangkalan makna, seolah-olah hanya berkuasa atas sekelompok (primordialisme) manusia. Tetapi yang ingin dikatakan oleh Armstrong bahwa pada awal kehidupan, manusia hanya memikirkan satu Allah yang universal.

Perspektif pembebasan bagi pengakuan keberagaman dapat melahirkan kesadaran perombakan primordialisme (paham kesukuan) menggereja dan sekaligus untuk menjawab perubahan masyarakat yang ditandai dengan mobilitas perjumpaan untuk sepakat hidup bersama dalam Kemah Allah. Pengakuan keberagaman diorientasikan pada kemanusian sebagai panggilan menggereja yang dilandaskan pada nilai spiritual (religiousity for humanity). Membangun kesadaran menggereja sebagai anti tesis terhadap ekslusivisisme telah menjadi keharusan sebagai kerangka peradaban baru kehidupan umat Allah. Intensitas perjumpaan keragaman manusia sebagaimana yang berlangsung di Meko, dengan simbol-simbol agama, budaya, etnis perlu diberi penguatan spiritual, artinya bangunan peradaban komunitas religius berdasarkan realitas, real community fidei. Karya Yesus Galilea adalah pola menggereja yang fungsional, yakni keberpihakan kepada mereka yang sakit, mereka yang membutuhkan penguatan iman. Demikian semestinya refleksi panggilan menggereja untuk mengambil peran dalam pemulihan kehidupan.


Universilitas Gereja Sebagai Persekutuan Umat Allah

Ziarah Spiritual di Meko dalam kebersamaan hidup dapat ditempatkan dalam kerangka pola menggereja mengikuti konsep eklesiologi yang memberi penekanan pada model gereja sebagai Persekutuan Umat Allah. Ini menunjuk pada konteks kehidupan Umat Allah yang berziarah seperti yang digambarkan dalam kitab Perjanjian Lama. Misalnya bila kita membaca kisah Abraham sebagai bapa leluhur umat beriman. Demikian dalam tradisi gereja mula-mula dalam Perjanjian Baru. Dalam eklesiologi ini, menggereja menekankan makna persekutuan (communio).

Makna persekutuan (communio) sebagai suatu model menggereja mengandung gagasan tentang “Umat Allah” dan “Tubuh Kristus”. Gagasan Umat Allah yang dipadankan dengan gereja dalam Perjanjian Baru hendak menekankan bahwa gereja ada dan berkembang dari sejarah keselamatan yang sudah dimulai sejak pemanggilan Bapa Abraham. Dengan demikian gereja dimengerti dalam suatu kesadaran serius bahwa gereja mengalami dirinya berhubungan erat dengan umat manusia dalam rangka sejarah keselamatan yang univerisal. Di sini tema “Umat Allah” menemukan pemaknaanya dalam tema “Tubuh Kristus” sendiri. Umat Allah menekankan bahwa gereja dipanggil dan dipersatukan Allah, dan hanya pada Kristuslah gereja dipersatukan oleh Allah. Maka hanya sebagai Tubuh Kristus gereja adalah Umat Allah, tetapi kesatuan dengan Kristus bukan kesatuan organisatoris melainkan kesatuan iman.  Lebih lanjut bahwa, kalau gereja disebut Umat Allah maka dikemukakan unsur historis dan insaninya, dalam arti gereja adalah sekelompok manusia yang berkembang dalam sejarah. Memahami eklesiologi dalam kerangka Persekutuan Umat Allah yang dalam aspek sosio-historisnya bertolak dari interpretasi latar belakang sejarah Israel sebagai Umat Allah. Yaitu hubungan antara Israel sebagai Umat Allah dalam Perjanjian Lama dengan gereja sebagai Umat Allah dalam Perjanjian Baru.

Pendekatan untuk mempertimbangkan pola menggereja sebagai persekutuan Umat Allah, di pihak lain konsep Umat Allah tidak semata dimengerti sebatas pada aspek peziarahannya  seperti sejarah perjalanan Umat Allah dalam Kitab Perjanjian Lama, namun menyentuh pada makna universalistis yaitu gereja sebagai persekutuan Umat Allah adalah berada dalam kesadaran sebagai persekutuan bersama dengan seluruh umat manusia. Dan juga, dengan tidak mengabaikan potensi eksklusifisnya, di mana kemungkinan gereja kembali terjebak pada primordialisme (baca: paham kesukuan), sebagaimana ide Umat Allah yang telah mengalami penyempitan makna menjadi sejarah nasional bangsa Israel semata; pergeseran makna Umat Allah yang universal menjadi partikular atau pemahaman tentang gereja sebagi masyarakat sempurna "societas perfecta". Gereja sebagai persekutuan Umat Allah secara prinsip mengandung makna dengan penekanan pada kontinuitas sejarah keselamatan manusia dan berada dalam kerangka hubungan universal antara Allah dan manusia. Untuk itu umat manusia yang mempersekutukan diri menjadi gereja sebagai umat Allah berada dalam kepatutan untuk melayani sebagai sesama umat manusia kepada manusia sebagai manusia. Hal penting dengan memahami gereja sebagai umat Allah adalah menolong dalam panggilan pelayanan untuk tidak terjebak pada polarisasi "orang kita - orang mereka", yaitu sikap yang menganggap “orang kita” sebagai satu-satunya manifestasi kebenaran dan kesempurnaan, sedang “orang mereka” adalah kegelapan dan kesesatan.


Gereja  Fungsional

Kehadiran anak Selvin yang dipilih sebagai alat untuk melakukan fungsi menggereja bagi pemulihan kemanusiaan di Meko, awalnya menghadirkan kegelisahan di lingkungan para Pendeta baik sebagai pribadi maupun dalam lingkungan struktur menggereja. Kegelisahan itu adalah refleksi perasaan de-legitimasi Pendeta sebagai simbol moral dengan klaim kepatutan menjalankan fungsi pemulihan. Dalam persoalan ini, ada warga yang segera melihatnya sebagai kasus sebab akibat bahwa pilihan pada anak kecil karena belakangan ini aura reformasi menggoda terjadinya krisis moral di kalangan Pendeta. Atau, kemungkinan inilah persoalan sebenarnya di balik kegelisahan tersebut dan ada keengganan untuk dipersoalkan moralitas (perasaan dipermalukan) bila turut serta berzirah ke Meko. Kegelisahan ini tidak sepatutnya berlebihan, bila ada kreatifitas untuk terus berefleksi tentang esensi menggereja dan pengakuan pada Kebebasan Allah untuk berkarya.

Pada tulisan ini, konsep eklesia yang fungsional sedikit dapat membantu membuka alam sadar bahwa esensi menggereja mendapat pemaknaan dalam rumusan gereja sebagai organisme. Ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana seharusnya gereja sebagai persekutuan Umat Allah yang telah mengorganisasikan diri dapat melakukan fungsi-fungsinya.  Gereja secara organisasi (institusi) merupakan model gereja yang menekankan unsur kelihatan sebagai ciri suatu masyarakat konkrit yang memiliki lembaga kepemimpinan dan sejumlah anggota yang menerima peraturan sebagai pengikat bagi mereka. Namun, pikiran tentang struktur (institusi) gereja dalam teks Perjanjian Baru sesungguhnya memuat refleksi simbolik tentang gereja sebagai "tubuh Kristus yang dicintai". Misalnya Efesus 2:19; "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah", yang mana ayat ini secara eksplisit merefleksikan gereja sebagai “Keluarga Allah”. Dan segi kelembagaan dari refleksi ini diperkuat oleh ayat selanjutnya, “Yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”.   Sementara mengenai gambaran gereja sebagai "Tubuh Kristus", seperti terefleksikan dalam Efesus 1:22, "Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada". Dari kutipan ayat-ayat di atas, terlihat gambaran simbolik tentang "Tubuh Kristus" sebagai kumpulan orang yang masing-masing melakukan fungsinya-fungsinya.

Gagasan yang dapat ditarik dari refleksi di atas bahwa surat Efesus mengembangkan gagasan tentang “Tubuh Kristus” sebagai tekanan untuk menunjuk fungsi-fungsi gereja. Dalam hal ini ditemukan suatu refleksi tentang “Tubuh Kristus” yang diproyeksikan menjadi segi-segi kelembagaan gereja. Ide tentang gereja sebagai organisasi cukup samar-samar dan kelihatannya menghindari pemahaman bahwa Tubuh Kristus identik dengan organisasi gereja. Namun “Tubuh Kristus” yang dapat dipadankan dengan “tubuh kita” menjadi ungkapan simbolik gereja sebagai realitas persekutuan yang melakukan fungsi pemulihan.

Untuk itu pikiran mengenai Gereja yang fungsional yaitu gereja yang menjadi alat dan sarana kehadiran Yesus Kristus yang terus menerus melangsungkan karya pemulihan-Nya bagi para peziarah, terkristalisasi pada esensi Keteladanan Pola Pelayanan Yesus. Secara defenitif Allah telah melaksanakan karya keselamatan dunia ini dalam Yesus Kristus melalui kedatangan-Nya ke dalam dunia. Karya keselamatan yang konkrit tersebut merupakan tindakan kemanusiaan, yaitu Allah yang dipahami solider dengan pemulihan martabat manusia, sebagaimana cara hidup Yesus yang terlibat langsung dalam penderitaan dalam wujud suatu solidaritas pemulihan kemanusiaan. Hal yang cukup menonjol dari sikap dan cara hidup yang dijalani bahwa Yesus sendiri berasal dari strata lingkungan keluarga kecil dan lingkungan pergaulan-Nya pun adalah rakyat jelata. Kelompok perdana yang komitmen pada ajaran-ajaran dan menempatkan Yesus sebagai figur keteladanan hidup mereka, agar dapat bertahan dan menyebarkan ajaran-ajaran yang telah mereka terima, kemudian hari dalam perkembangannya mempersekutukan diri. Persekutuan umat tersebut teridentifikasi dengan istilah gereja, yang mengandung pengertian sekelompok umat beriman yang terpanggil untuk melakukan fungsi pemulihan kemanusiaan.

Dengan mengikuti uraian sederhana di atas, alasan kegelisahan tidak terlalu mendasar. Dalam kesadaran memahami gereja sebagai organisme, keluarga Bungge-Sologi dan anak kekasih Selvin hanyalah mengambil salah satu fungsi pelayanan dari sekian fungsi-fungsi menggereja. Secara gerejawi, semua orang dipanggil untuk mengambil bagian dalam fungsi pelayanan. Dengan pengecualian bahwa anak Selvin dipilih untuk fungsi pelayanan yang khusus yakni menjadi alat pemulihan kemanusiaan untuk satu kesatuan Umat Allah. 

Menurut berita, pada suatu waktu yang lalu, anak Selvin Bungge diajak ke Jakarta oleh seorang warga Poso yang berdomisili di Jakarta dengan maksud untuk memulihkan kepala keluarga mereka yang terkena serangan Stroke sehingga lumpuh. Di tengah perjalanan dari Meko menuju ke Palu untuk terbang ke Jakarta, di kampung Sausu, anak Selvin melihat teman sebayanya bermain. Lalu ia meminta kepada sopir untuk menghentikan kendaraannya lalu turun dan ikut bermain cukup lama, kemudian setelah puas bermain meneruskan perjalanan. Di Jakarta, selain keluarga yang tujuan awal untuk dikunjungi, juga ada seorang ibu dari lingkungan pengusaha yang masuk dalam kategori 10 besar terkaya di Indonesia. Ibu tersebut menawarkan bantuan untuk membangun rumah di Meko, lalu Selvin hanya menjawab bahwa rumahnya lebih bagus dari rumah sang konglomerat tersebut. Sebagaimana kebiasaan selama ini, bahwa ia kembali dari Jakarta hanya dengan mengantongi “seribu rupiah” untuk dipersembahkan kepada Tuhan dalam ibadah Sekolah Minggu.

Selvin adalah seorang anak kecil yang tumbuh secara normal, membutuhkan waktu bermain dengan kawan sebayanya. Demikian juga tertanam dalam ingatan kecilnya bahwa setiap minggu ia harus mempersembahkan korban kepada Allah melalui gerejanya sebesar seribu rupiah. Saat menyaksikan lautan manusia yang berkumpul di kemah depan rumah mereka yang menantikan jamahannya, orang menyebutnya sebagai Dokter Kecil, keletihan nampak dari raut wajah seorang anak kecil yang tumbuh normal. Karena itu pada akhir-akhir ini, ia lebih banyak berdiam diri dalam kamar atau mengajak teman-temannya bermain ke kampung lain dan ia digantikan ibunya untuk melakukan fungsi gereja yang memulihkan. Menurut Pdt. Rinaldy Damanik bahwa sejak pertengahan bulan Februari anak kekasih Selvin tidak lagi berperan aktif dan telah digantikan oleh ibunya. Sikapnya yang mengatakan “rumahnya di Meko lebih baik dari rumah sang konglomerat di Jakarta” mengingatkan kita pada fungsi gereja yang kritis pada kekuasaan (roh kapital) dan menentukan pilihan keberpihakan pada mereka yang lemah, sakit. Karena itu, ia hanya menerima “seribu rupiah” sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memakainya untuk melayani sesama. Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus yang menjadi doa utama dalam seluruh pelaksanaan ibadah di Meko, mengingatkan kita pada makna kepedulian untuk saling membagi. Penggalan doa Yesus, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” mengingatkan gereja untuk mengutamakan hidup yang untuk kesejahteraan bersama.             

Bagi komunitas warga GKST di Tana Poso, peristiwa luar biasa di Meko perlu menjadi refleksi untuk melihat fungsi gereja. Satu hal yang perlu menjadi catatan kritis adalah mentalitas warga gereja untuk berlomba membangun gedung-gedung gereja megah yang menghabiskan banyak uang. Tana Poso telah menjadi tempat mempertontonkan lukisan gedung-gedung gereja megah. Atas nama “rumah” Allah, otoritas pembangunan Gedung Gereja Baru telah menguras energi, waktu dan dana dari warga dengan menimpakan iuran tanggungjawab yang tidak lagi seimbang dengan realitas ekonomi yang cukup mereka hidupi. Dibanding membangun gedung gereja megah, persoalan substansial yang perlu diberi perhatian adalah kemajuan pendidikan warga gereja yang banyak tertinggal misalnya jika membandingkan dengan komunitas Toraja. Padahal dalam catatan sejarah, ada interval waktu 20 tahun pendidikan telah dimulai di Poso (1894) kemudian menyusul di Tana Toraja (1913). Namun dalam perjalanan sejarah, terjadi arus balik kebangkitan kesadaran berpendidikan pada dua komunitas yang dalam literatur Antropologi awal abad 20 dikenal sebagai Komunitas Serumpun; Komunitas To Poso sebagai Toraja Timur (Toraja Bare’e) di Tengah dan Komunitas To Sa’dan-Mamasa sebagai Toraja Barat (Toraja Tae) di Selatan. Sisi lain dari perlombaan pembangunan gedung gereja yang menghabiskan banyak uang hingga milyaran rupiah, bahwa di balik kemegahannya terbangun persekutuan yang semakin mempertontonkan jarak antar kelas sosial. Sekelompok elit yang merasa memiliki andil besar semakin memperkuat posisinya, pada pihak lain tumbuh perasaan minder dan cenderung memilih persekutuan-persekutuan alternatif yang menjamur.

Fungsi menggereja yang berlangsung di Meko, ternyata tidak membutuhkan gedung gereja megah. Para peziarah menyatu pada satu persekutuan dalam kemah. Mereka beribadah, memuji, mengucap syukur kepada Allah siang dan malam. Kemah persekutuan telah meruntuhkan tembok-tembok gereja (dan agama) yang membuat sekat-sekat perasaan eksklusif, lalu lebur dalam satu persekutuan Keluarga Allah. Ungkapan K.H. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, cukup menyentuh mencermati fenomena keberagamaan di Meko, bisa terjadi bahwa “orang se-iman bisa berbeda agama dan sebaliknya tidak se-iman walaupun satu agama”.


Rekonsiliasi Inisiatif Ilahi

Menjelang pergantian ke abad 21, peradaban manusiawi di Tana Poso mengalami krisis yang amat memilukan. Berbagai pihak telah memberi analisis masalah kerusuhan sosial dalam berbagai perspektif. Antara lain, analisis yang mengaitkan kerusuhan sebagai bagian dari rencana investasi usaha pengolahan Sumber Daya Alam dengan memanfaatkan dinamika sosial - politik lokal. Konflik horisontal mengalami tahap pengkondisian sebagai wilayah tidak aman karena itu menjadi alasan mendasar untuk menggelar proyek pengamanan besar. Bila benar kerusuhan berhubungan dengan ekspansi modal, maka kekayaan alam sebagai berkat Tuhan justru menjadi malapetaka dan amat tragis bahwa kerusuhan direkayasa dengan memperdaya umat beragama. Kerusuhan sosial dan rentetan provokasi berkelanjutan adalah penghancuran peradaban generasi masa depan Tana Poso. Ibarat Sabung Ayam, Tana Poso telah menjadi arena perhelatan perjudian yang mempertontonkan umat manusia yang saling membunuh.

Kerusuhan mewariskan sikap permusuhan dan curiga sebagai sesama Umat Allah. Pengalaman bergaul dalam relasi antar komunitas berbeda agama, Islam-Kristen, identitas etnik, agama, budaya dapat membawa musibah kemanusiaan. Misalnya, di kota Makassar, identitas Orang Pamona, Orang Poso, Orang Tentena merupakan identitas ketakutan. Sebagai cara aman, teman-teman dari Tentena-Poso akan menyebut identitas mereka sebagai orang Toraja dalam perjumpaannya dengan teman-teman Islam yang belum mereka kenal atau identitas mana saja asal bukan Orang Poso. Demikian sebaliknya, Orang Makassar, Orang Bugis, Orang Islam yang akan melakukan perjalanan ke Palu akan bergumul serius untuk melalui kota Tentena. Kerusuhan sosial yang menunggangi kehidupan damai umat berbeda agama telah membawa implikasi hilangnya satu lapisan generasi (kelompok strategis) di Tana Poso. Musibah kemanusiaan menumbuhkan (mempertegas sentimen) mentalitas umat untuk menempatkan relasi antara Umat Allah sebagai “orang kita” dan “orang mereka” (dalam dialek komunitas Poso “orang torang” dan “orang dorang” ).  

Keajaiban dunia di awal abad ini yang sedang berlangsung di Meko juga perlu ditempatkan dalam renungan kita tentang pergumulan masyarakat Poso yang akhirnya konflik sosial dijadikan Proyek Nasional Rekonsiliasi selama bertahun-tahun. Deklarasi Malino I yang mempertemukan elit komunitas Kristen dan Islam dilihat sebagai Pintu Gerbang untuk memulihkan kehidupan damai di Tana Poso. Para Duta Perdamaian mewakili dua komunitas yang bertikai mendapat setumpuk kata-kata kebijaksanaan menurut tafsir penguasa; dari sang arsitek rekonsiliator Yusuf Kalla yang ketika itu sebagai Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat dan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu menteri Kordinator Politik dan Keamanan, kembali ke tempat masing-masing untuk meneruskan kegiatan seremonial dalam wadah Kelompok Kerja Rekonsiliasi Poso.

Untuk suatu proyek mempertemukan sekelompok kecil orang dari dua komunitas berbeda agama agar sekadar dapat berjabatangan lalu melafalkan kata maaf, dibutuhkan panitia yang melakukan rapat berkali-kali, mengajukan Proposal, dan sebagainya. Ini dilakukan berulang-ulang bahkan bertahun-tahun dan menguras dana, energi, emosi, waktu. Alhasil, sebagaimana ungkapan yang bernada sindiran dari mulut para korban bahwa “pengungsi dapat Super Mie, pengurus dapat Super Kijang”, sementara itu aksi provokatif tak kunjung berakhir. Rekonsiliasi menurut tafsir penguasa hanya menguras uang rakyat, yang tidak sedikit dikorupsi orang-orang tertentu. Bagi komunitas Poso, rekonsiliasi hanya menyisakan perasaan frustasi, perasaan ketidakadilan perlakuan hukum, dan dijadikan alat permainan kekuasaan.

Peristiwa besar yang tengah berlangsung di Meko, bila kita dapat menerimanya, adalah Karya Rekonsiliasi inisiatif Ilahi untuk pemulihan kemanusiaan di Tana Poso. Karya Rekonsiliasi Meko sebagai jawaban rasa frustrasi seakan-akan Allah tidak mendengar doa mereka akibat rekonsiliasi bertahun-tahun yang terkesan setengah hati sehingga tetap tersedia ruang terpeliharanya sikap saling curiga antar sesama umat Allah. Sebagaimana ungkapan Yusuf Kalla yang kini menjadi Wakil Presiden RI bahwa rangkaian aksi yang masih terjadi di Poso karena masih adanya perasaan dendam. Alasan masih ada perasaan dendam melahirkan kesan adanya ruang untuk negosiasi dengan aksi premanisme. Rekonsiliasi Meko tidak diatur oleh sederat nama panitia di tingkat nasional hingga ke pelosok. Tidak ada proposal. Tidak ada dana milyaran yang akan dibagi-bagi. Dana rekonsiliasi Meko yang diterima anak Selvin yang dipakai sebagai alat untuk memulihkan kemanusiaan di Tana Poso hanya seribu rupiah, setara dengan harga satu bungkus Super Mie yang diterima korban kerusuhan Poso. Artinya, anak Selvin yang mendapat anugerah tanpa mengajukan proposal, demikian telah dibagikan secara cuma-cuma untuk pemulihan harkat kemanusiaan Tana Poso. Para peziarah ke Meko tidak diundang, tidak difasilitasi oleh panitia. Keputusan iman-lah yang menuntun mereka untuk lebur dalam satu kesatuan keluarga Umat Allah.   

Permohonan dan harapan komunitas di Poso bagi hadirnya rasa keadilan, boleh jadi dalam semangat primordial, dari Tuhan dijawab dengan tidak memberi hukuman, tetapi pemulihan kemanusiaan. Rekonsiliasi dimulai dari koreksi diri, sebagaimana makna Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan menjadi bagian yang ditekankan dalam ibadah di Meko. Doa Bapa kami yang sederhana namun syarat makna yang sulit dilakukan secara tulus dan terbanyak kali diabaikan. Makna penggalan doa yang diajarkan Yesus “Ampunilah kami seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Kata maaf untuk damai tidak menunggu orang lain untuk lebih dahulu mengampuni, tetapi Yesus mengajarkan untuk memulai dari diri sendiri untuk memberi pengampunan kepada orang yang bersalah. Sebagaimana yang disampaikan Pdt. Rinaldy Damanik menurut yang dicakapkan dengan anak Selvin, bahwa Doa Bapa Kami selain diajarkan langsung oleh Yesus Kristus juga kesederhanaannya untuk mudah dipahami tetapi juga memiliki makna universal dapat diterima termasuk orang beragama lain.

Komunitas peziarah yang berbeda agama; Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hidup menyatu dalam kemah, saling membagi apa yang ada pada mereka adalah ekspresi kesatuan keluarga Allah. Kehadiran mereka meretas prasangka atas dogma-dogma agama yang membelenggu. Ketika ibadah malam menurut tata cara Kekristenan dilaksanakan, di tempat yang tidak jauh tampak saudara-saudari muslim dengan khusuk melakukan sholat Tahajud memohon kemurahan Allah. Di sinilah kita menemukan esensi rekonsiliasi yang lahir dari pertobatan yang tulus. Bagi komunitas di Poso simbol Islam - Kristen sebagai identitas yang menakutkan, sumber kekerasan, melalui Rekonsiliasi Meko sebagai inisatif Ilahi berangsur-angsur mendapat pemaknaan positif menjadi kekuatan identitas pemulihan. Keajaiban Dunia di Meko menjadi kekuatan pemulihan martabat manusia Tana Poso. Maka, berduyun-duyunlah umat manusia dari seluruh penjuru negeri untuk mendapat pemulihan, penguatan iman. Akhirnya, bila dapat kita terima bahwa keajaiban dunia di Meko adalah peristiwa Ilahi, ini sekaligus Undangan Pertobatan kepada pihak-pihak untuk berhentilah memprovokasi pertumpahan darah di Tana Poso.  


5. Rangkuman

Peristiwa besar yang sedang berlangsung lima bulan terakhir di Meko, Kecamatan Pamona Barat Tana Poso, telah menarik perhatian sejumlah besar umat manusia untuk melakukan ziarah spiritual ke sana. Kehadiran umat manusia yang berasal dari latar belakang agama berbeda; Islam, Kristen, Hindhu, Buddha dan kepercayaan lainnya, kemudian hidup menyatu mengajak gereja untuk melakukan refleksi mengenai esensi menggereja. Sementara itu, dari latar belakang sejarah disadari bahwa gereja masih hidup menurut warisan pengajaran yang melihat kepercayaan lain sebagai pihak yang tidak benar dan kerusuhan sosial di Tana Poso mempertegas mentalitas tersebut. Tetapi realitas kehidupan keimanan para peziarah memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari rumusan iman yang dipegang teguh selama ini. Peristiwa besar di Meko akhirnya menempatkan gereja berada pada titik henti untuk mempertanyakan hakekat panggilannya.

Refleksi dalam tulisan ini mengetengahkan gagasan universalitas gereja sebagai persekutuan Umat Allah. Secara substansi gagasan ini bertolak dari keyakinan bahwa karya Roh Kudus melampaui tembok-tembok gereja sebagaimana rumusan iman yang menjadi warisan yang memposisikan kepercayaan lain sebagai yang tidak benar. Refleksi universalitas gereja sebagai Persekutuan Umat Allah adalah tanggapan terhadap Peziarah yang berada dalam proses pencarian Anugerah Tuhan. Kebersamaan mereka sebagai umat beriman berbeda agama merupakan wujud kesatuan Anggota Keluarga Allah.

Implikasi kerusuhan sosial di Tana Poso semakin mempolarisasikan komunitas berbeda agama pada dua kutub ekstrim. Pengkondisian bertahun-tahun akhirnya dijadikan Proyek Nasional untuk rekonsiliasi namun tetap menyisakan rasa frustasi atas perasaan ketidakadilan. Peristiwa besar yang sedang berlangsung di Meko mengandung makna rekonsiliatif sebagai inisiatif Ilahi. Para peziarah yang berbeda agama tersebut hidup menyatu tanpa diatur oleh satu Tim atau menunggu Proposal. Inilah esensi rekonsiliatif yang lahir dari pertobatan untuk mengatakan kami adalah Kesatuan Anggota Keluarga Allah. Sekali lagi, bila dapat kita terima bahwa keajaiban dunia di Meko adalah peristiwa Ilahi, sebagaimana makna simbolik dari penampakan wajah Yesus dengan tangan terbuka, ini sekaligus Undangan Pertobatan kepada pihak-pihak untuk berhentilah merencanakan pertumpahan darah di Tana Poso. 

Makassar, awal Juni 2007

[1] Melayani dalam fungsi sebagai Pendeta di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) sejak tahun tahun 1995. Ketika mendapat kesempatan tugas belajar aktif dalam Forum Dialog Antar Kita Sulawesi Selatan (FORLOG Antarkita SUL-SEL) dan Jaringan Institut Dian Interfidei Yogyakarta di Makassar.

[2] Rumusan iman Dipilih Sebagai Alat Pemulihan Kemanusiaan Di Tana Poso, adalah inspirasi yang diperoleh dari pernyataan Ibu Mariati Sologi yang memimpin pada Ibadah jam 24. 00 (jam 12.00 tengah malam) yang berkali-kali menekankan bahwa Kami Hanyalah Alat…dan yang memulihkan adalah iman dan pertobatan yang sungguh dari saudara-saudara, pada tanggal 27 April dini hari di Pelataran rumah mereka di Meko.

Laman asli: http://www.oaseonline.org/artikel/meko.htm

Be blessed more by reading all of this Sulawesi series! 
Diberkatilah lebih lagi dengan membaca seluruh serial Sulawesi ini!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Since 18 December 2010

free counters