English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

this widget by www.AllBlogTools.com

Jumat, 19 November 2010

Sulawesi #6 - Mujizat Meko - Poso - Toraja

KESAKSIAN SEORANG HAMBA TUHAN
- Bpk. Pdt. DR. I.Y. Panggalo STh. - Sekum BPS Gereja Toraja

Salam kasih untuk semua!

Semoga kita semua berada dalam keadaan sejahtera karena kasih Tuhan Yesus Kristus!

Dua informasi ingin saya bagikan:

Pertama: Pada hari Kamis dan Jumat (31 Mei dan 1 Juni 2007) minggu lalu BPS Gereja Toraja, dengan meminta Jemaat Rantepao sebagai Tuan-Nyonya Rumah, melaksanakan Ibadah Pengucapan Syukur kepada Tuhan karena karunia-Nya atas sebagian warga Gereja Toraja melalui penyembuhan dan pemulihan yang Tuhan lakukan di Meko melalui hamba yang dipilih-Nya sendiri, Selvin dan Ibunya (bnd. Suara Penggembalaan). Tanggal 31 Mei, mulai sore hingga malam, berkumpul sekitar 20.000 orang. Angka itu ditaksir berdasarkan kolekte yang secara spontan (tidak diaktakan) dikumpul umat. Lembaran 1.000an yang terkumpul, lebih dari 19.000. Sedangkan cukup banyak orang yang tidak tahu dan karena itu tidak memberikan persembahan dalam ibadah malam itu.

Pada hari Jumat, 1 Juni 2007, acara ibadah dilakukan mulai pagi hingga malam. Peserta ibadah diduga dua kali lebih banyak daripada hari sebelumnya. Ada yang menyebut angka di atas 50.000 orang. Jumlah peserta ibadah ini menurut saya luar biasa. Selain peserta ibadah dari lingkungan Gereja Toraja sendiri, hadir juga warga dari gereja2 lain, termasuk teman-teman dari agama lain. Dalam ibadah dua hari itu, yang dapat saya saksikan ialah bagaimana puluhan ribu umat Tuhan itu menyatu dan melarut dalam kebersamaan menyembah dan memuji Tuhan. Penuh semangat, sukacita, dan spontanitas. Sepertinya mereka tidak mengenal lelah dan tidak ingin berhenti.

Hari pertama direncanakan ibadah akan dimulai pk. 19.00. Kenyataannya, baru pk. 15.00 orang sudah mulai secara spontan dan tidak berhenti sampai malam. Hari kedua, direncanakan pk. 10.00, tetapi baru pk. 06.00 orang sudah mulai ibadah sendiri. Ibadah ini berjalan sangat spontan dan dinamik.

Apa yang dipersiapkan oleh pelaksana tidak dapat sepenuhnya diikuti. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang memiliki dan mengatur acara ini.

Pada hari Minggu, 27 Mei 2007, Pak Acis mengirim sms berupa saran kepada pelaksana melalui saya, meminta, biarkanlah Tuhan yang memiliki acara ini. Janganlah ada orang yang mau muncul menonjolkan dirinya sendiri. Saya mengaminkan bahwa saran Pak Acis ini benar-benar telah terjadi dalam ibadah selama dua hari di halaman gedung Gereja Toraja Jemaat Rantepao itu.

Pdt. Rinaldy Damanik, Moko (dianggap peserta ibadah sebagai pengkhotbah cilik), dan anggota rombongan TIM KKR Moko dari Tentena, telah menjadi alat yang memperlihatkan kerendahan hati melayani Tuhan dan umat-Nya. Penyembahan, pujian, dan doa yang lahir dari hati puluhan ribu umat yang menyatu dan melarut dalam ibadah itu sungguh telah mengesankan. Allah berkenan merahmati dan memberkati umat-Nya yang menyembah-Nya dengan kebulatan dan kesungguhan hati.

Dalam ibadah hari kedua, baik waktu pagi, siang, maupun malam (ada waktu istirahat untuk makan siang dan makan malam) Tuhan berkenan memberikan kesembuhan dan kepulihan.

Ada orang buta yang menyatakan diri telah dapat melihat; ada orang-orang lumpuh yang menyatakan diri telah sembuh karena merasa telah mendapat kekuatan dari Tuhan untuk bisa berjalan sendiri tanpa bantuan (meninggalkan kursi roda dan tongkatnya); ada orang-orang bisu yang dapat mengucapkan kata-kata yang menurut keluarganya belum pernah bisa diucapkan sebelumnya, dll. Oleh karena peristiwa kesembuhan ini sungguh-sungguh terjadi spontan, tidak diduga sama sekali, maka tidak semua yang merasa telah mengalami kesembuhan dapat didata.

Saya sendiri hanya dapat mencatat identitas seorang Ibu yang menurut anaknya sudah lebih dari 20 th lumpuh dan sangat bergantung kepada bantuan orang lain. Kepada kami, Ibu itu bercerita bahwa sudah banyak uangnya habis untuk berobat ke dokter di Rantepao dan di Makassar dan tidak ada perubahan. Sudah pernah juga ke Meko, memang mengalami perubahan sedikit. Tetapi malam itu, tanggal 1 Juni 2007, menurut penuturannya, beliau mengalami kesembuhan. Saya menyaksikan bagaimana Ibu itu sudah berjalan secara normal sendirian dari halaman Jemaat Rantepao menuju mobil di halaman Kantor Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja yang akan mengantarnya pergi menginap di rumah keluarganya di daerah Malango’.

Selain itu, sebuah kursi roda yang masih bagus, sekarang ini tersimpan di Kantor Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, ditinggalkan oleh pemiliknya yang merasa telah disembuhkan Tuhan pada tanggal 1 Juni itu.

Mungkin istilah yang cocok untuk peristiwa ini adalah KESEMBUHAN, karena terjadinya spontan dan bukan atas rencana dan kekuatan manusia. Ini tentu berbeda dengan yang secara sengaja direncanakan dan diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya sebagai PENYEMBUHAN ILAHI. Menurut saya, penyembuhan Ilahi tidak pernah bisa direncanakan dan disengajakan. Tuhan Yesus tidak pernah mengumumkan sebelumnya suatu rencana penyembuhan, karena Tuhan Yesus sendiri sangat memusatkan Diri pada Kehenndak Bapa-Nya, bukan pada kehendak-Nya sendiri. Allah dapat menyembuhkan kapan saja, siapa saja, di mana saja, penyakit apa saja, sesuai kehendak-Nya sendiri. Dan ini tidak bisa direncanakan dan disengajakan oleh manusia. Oleh karena itu, melalui apa yang terjadi pada dua hari ibadah di halaman Jemaat Rantepao itu, semata-mata Allah-lah yang patut diagungkan dan dimuliakan.

SYUKUR KEPADAMU, YA ALLAH, KARENA ENGKAU TELAH MENYATAKAN KUASA DAN KASIHMU KEPADA UMATMU pada hari-hari itu!


Kedua: Sejak hari Minggu (3 Juni 2007) yang lalu, dalam gedung Gereja Katolik di Tikala, orang datang menyaksikan penampakan melalui salib.

Menurut informasi-informasi dr orang-orang yang kembali dari sana, tiap orang mempunyai pengalaman yg berbeda-beda. Ada yang melihat cahaya keluar dari salib yang terpasang di bagian atas dinding belakang mimbar; ada yg melihat bayangan salib bercahaya dan bergerak/ berpindah-pindah; ada yang melihat wajah mirip gambar Tuhan Yesus yang bermahkota duri, atau gambar Tuhan Yesus dalam posisi berdoa; ada yang melihat pelangi; ada yang melihat kilatan cahaya terang benderang, dll. Ada juga yang tidak melihat apa-apa selain fisik salib yang memang terpasang di situ. Karena berita itu menyebar sejak kemarin pagi baik melalui sms, telepon, maupun tv kabel di Rantepao, maka mulai sore hingga malam hari luar biasa banyaknya orang yang datang ke sana.

Karena banyaknya orang, tadi malam itu sekitar jam 2 subuh baru orang bisa kembali karena kendaraan begitu padat dan macet. Sulit bergerak. Sekitar jam 20.30 tadi malam, bersama Pdt. A. Kabanga’ dan Pdt. Albatros Palilu, saya pun coba ke sana. Kedua bapak itu berhasil sampai di lokasi. Saya ambil keputusan untuk tidak terus ke lokasi dan kembali saja karena saya merasa keadaan sangat gelap dan jalanan begitu padat dengan kendaraan (sitor, mobil, dan motor) dan manusia. Dalam perjalanan untuk kembali, saya bertemu dengan Pdt. Sulaiman Manguling yang baru datang dengan keluarganya. Atas saran saya, mereka segera putar mobil dan kami sama-sama kembali ke Rantepao.

Kami mendapat informasi bahwa di Astrama Elim, di tempat Pak Anto Pali’, kami mampir menyaksikan foto-foto yang sempat beliau ambil sore harinya. Kami memperoleh kesan tertentu dari foto-foto itu. Hari ini, bahkan sampai malam ini, masih banyak orang datang ke sana.

Walaupun penglihatan dan kesan dari tiap orang yang datang ke sana itu yang beraneka ragam, termasuk mereka yang tidak merasa melihat sesuatu yang aneh, saya dapat menyimpulkan bahwa sungguh-sungguh ada sesuatu yg terjadi di sana. Orang bertanya, apa maksud Tuhan dengan fenomena semacam ini?

Ada informasi yang dapat dianggap sebagai peringatan untuk waspada dari teman-teman di Sulawesi Tengah dan juga dari Ambon. Berdasarkan pengalaman mereka pada masa lalu, tanda-tanda sejenis itu terjadi juga di beberapa gedung gereja pada kedua wilayah itu beberapa saat sebelum pecahnya kerusuhan. Informasi ini bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi sekadar mewaspadakan.

Semoga kedua informasi ini bermanfaat.

Salama’,

I.Y. Panggalo


SUARA PENGGEMBALAAN
FENOMENA MEKO: PERBUATAN ALLAH!

Peristiwa penyembuhan dan pemulihan, lazim orang sebut sebagai mujizat oleh karya kuasa Allah, yang terjadi di Meko, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, telah menarik perhatian banyak orang baik berupa kekaguman, maupun berupa pertanyaan-pertanyaan dari sebagian orang, termasuk dari warga Gereja Toraja. Ada warga jemaat yang mengajukan pertanyaan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui komunikasi pesan singkat (SMS). BPS Gereja Toraja telah mengikuti perkembangan dari apa yang sering disebut FENOMENA MEKO itu sejak pertengahan Maret 2007. BPS Gereja Toraja telah berusaha mencari informasi dari berbagai pihak, misalnya dari Ketua I Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yaitu Pdt. Ishak Poleh, pendeta-pendeta GKST yang dilibatkan melayani bersama Selvin dan Ibunya sejak mulainya Fenomena Meko misalnya Pdt. Rinaldy Damanik dan Pdt. James Salarupa, dan pendeta-pendeta Gereja Toraja yang melayani di jemaat-jemaat yang berdekatan dengan lokasi, terutama Pdt. Gideon Tulak di Jemaat Kanaan Meko dan Pdt. Petrus Se’seng di Jemaat Yizreel Bancea. Bahkan untuk mendapat kepastian apa sesungguhnya yang terjadi di Meko, Pdt. Soleman Batti’ (Ketua Umum), Pdt. I.Y. Panggalo (Sekretaris Umum), dan Pdt. J.K. Parantean, M.Th. (Ketua I) BPS Gereja Toraja telah datang ke Meko untuk mengalami secara langsung suasana ibadah-ibadah di mana penyembuhan dan pemulihan bagi banyak orang itu terjadi. Berdasarkan pengalaman itulah BPS Gereja Toraja mengeluarkan surat yang disebut SUARA PENGGEMBALAAN TENTANG FENOMENA MEKO ini.

Kepada segenap Warga Jemaat Gereja Toraja Yang Dikasihi Tuhan!

Pada tanggal 6 Januari 2007, seorang anak kecil usia 8 tahun, bernama Selvin (anak keempat dan bungsu dari pasangan suami istri Alfons Bungge dengan Mariati Sologi), diperkenan Tuhan menyembuhkan ibunya yang sedang sakit. Menurut penuturannya, penyembuhan itu terjadi karena disuruh oleh Tuhan Yesus yang disebutnya ”Tete Manis”. Dia disuruh menyembuhkan banyak orang. Penyembuhan atas ibunya itu disusul dengan penyembuhan atas orang-orang sakit lainnya di Meko. Selanjutnya berita tentang kuasa penyembuhan ilahi itu mulai menyebar dari mulut ke mulut, dari lingkaran kecil Meko, beranjak ke daerah sekitarnya, dan semakin lama semakin ke luar dan meluas. Orang-orang yang telah mendapatkan kesembuhan di Meko menyampaikan berita sukacita itu kepada keluarga, teman-teman, tetangga, dll. Penyebaran berita penyembuhan ilahi itu juga begitu cepat melalui telepon selular, baik melalui informasi suara maupun informasi tertulis dalam bentuk SMS. Konon warga Gereja Toraja dan masyarakat Toraja termasuk yang terbanyak pergi ke Meko. Dan syukur kepada Tuhan, karena kita jugalah yang paling banyak mengalami karunia kesembuhan dan kepulihan. Namun, karena ada pertanyaan-pertanyaan dan mungkin juga perbedaan pendapat yang muncul, maka Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja menyampaikan suara penggembalaan ini kepada seluruh warga Gereja Toraja:

1. Pengakuan Gereja Toraja Bab I ayat 2 mengatakan, ”Allah itu adalah satu-satunya sumber kehidupan, berkat, dan kebaikan. Hanya Dialah yang boleh disembah.” Patokan Gereja Toraja untuk melihat peristiwa Meko adalah Alkitab dan Pengakuan Gereja Toraja. Kesembuhan, kepulihan, dan kebertobatan yang banyak orang alami di Meko tidak bisa dianggap berasal dari yang bukan Allah. Kita percaya bahwa Allah mahakuasa sepanjang masa. Dia hadir di segala waktu dan tempat. Firman Tuhan dalam Matius 18:20 mengatakan ”Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tuhan hadir di tempat dimana Nama-Nya disembah dan dimuliakan dalam perkumpulan. Tuhan dapat bertindak dimana saja dan kapan saja Ia berkehendak. Tidak ada yang dapat menjadi penasihat Tuhan. ”Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (Yes 40:13). Kalau Dia berkehendak memilih seorang anak sekolah yang baru duduk di kelas III bernama Selvin, dan kemudian juga Ibunya (Ibu Mariati Sologi), serta daerah Meko untuk menyatakan karunia penyembuhan-Nya atas penderitaan sebagian umat manusia, maka hanya iman yang bisa menerimanya. Mungkin juga ada yang tidak percaya dengan alasannya sendiri.

2. Apa dan bagaimana pendapat Gereja Kristen di Sulawesi Tengah sendiri, di mana Selvin dan Ibunya menjadi anggota? Salah satu SMS yang kami terima dari Ketua I Majelis Sinode GKST berbunyi, ”Ketika terjadi kerusuhan di Poso dan Sulteng, dimana pendeta kami ditembak di atas mimbar, Bendahara dibunuh di jalan raya, anak-anak sekolah dipancung kepalanya, Sekum GKST mati ditembak di Palu, gedung-gedung gereja dibakar, sebagian besar warga gereja mengungsi, sesungguhnya kami telah menaruh tanda tanya besar tentang iman kami, apakah memang Kristus itu ada? Tetapi peristiwa di Meko kembali meneguhkan iman kami, dan percaya dengan sungguh bahwa Kristus benar-benar hidup.” Demikian juga pernyataan GKST dalam buku Fenomena Mujizat Kesembuhan Ilahi di Meko, yang ditulis oleh Pdt. Dr. Tertius Y. Lantigimo, “Fenomena Meko adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan menyatakan kasih dan kuasa-Nya bagi mereka yang menyatakan pertobatan, dan menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lain tanpa dibatasi oleh aliran, agama, suku, dan ras.” Merenungkan hal itu maka sesungguhnya sedang terjadi sebuah proses rekonsiliasi dengan cara Allah sendiri tanpa panitia dan tanpa perjanjian-perjanjian dari mereka yang bertikai seperti yang dilakukan orang selama ini. Dengan begitu, juga telah terjadi proses penyembuhan luka-luka sosial yang diakibatkan oleh konflik yang berkepanjangan. Tepatlah yang berulang kali disampaikan oleh ibunya Selvin, “Janganlah datang ke sini untuk berobat. Di sini tidak ada pengobatan, tetapi yang ada ialah pertobatan.“ Dengan pertobatan itu maka Allah berkenan menyembuhkan “luka-luka“ yang diderita manusia. Kalau anda bertobat dan Tuhan berkenan menyembuhkan maka anda pun sembuh.

3. Bagaimana dengan anggapan bahwa fenomena Meko itu bukanlah kehendak Tuhan melainkan fenomena nabi palsu atau kuasa yang bukan dari Tuhan? Seruan yang sejak awal dan terus dikumandangkan di Meko adalah panggilan pertobatan. Itu sama dengan yang telah diajarkan oleh Yohanes Pembaptis (baca Mrk. 1:4, Luk. 3:3, Mat. 3:2), Tuhan Yesus (Mrk. 1:15, Mat. 4:17), dan rasul-rasul-Nya (Kis. 2:38, 3:19, 8:22, Why. 2:5, 16, 3:3, 19). Seruan pertobatan tidak pernah disampaikan oleh iblis dan atau nabi palsu. Alkitab tidak berbicara tentang nabi palsu, tetapi nabi yang bernubuat palsu. Mengapa palsu? Yermia 5:2 menjelaskan "mereka berkata: "Demi Tuhan yang hidup", "namun mereka bersumpah palsu" (bnd. Yer 5:31; 14:14; 23:25). Nabi palsu selalu memuaskan telinga pendengarnya, berusaha memenuhi keinginan mereka yang datang kepadanya. Tentu saja berbeda dengan nabi yang benar, karena nabi benar mengumandangkan pertobatan dan menyatakan kehendak Tuhan baik melalui perkataan maupun perbuatan, termasuk berita penghukuman. Tetapi sebenarnya wacana nabi palsu dan nabi benar tidaklah relevan dalam Fenomena Meko, sebab baik Selvin maupun Ibunya tidak pernah mengklaim dirinya sebagai nabi. Sebaliknya, mereka selalu berusaha merendahkan diri dalam kesederhanaan mereka, karena yang utama ialah KUASA ALLAH yang membawa kepada pertobatan, memberikan kesembuhan, dan kepulihan. Itulah sebabnya mereka selalu menolak untuk difoto.

4. Bagaimana kalau orang sakit pergi ke Meko tetapi tidak mengalami penyembuhan? Nampaknya tidak semua orang sakit yang pergi ke Meko mengalami kesembuhan secara jasmani. Kalau seseorang pergi ke Meko dengan target harus sembuh secara fisik, maka sebenarnya ia sudah tidak menempatkan diri pada posisi BERSERAH DIRI PADA APA DAN BAGAIMANA KEHENDAK TUHAN untuk dirinya. Pada saat seseorang memaksakan kehendaknya ia telah menjadi nabi palsu untuk diri sendiri. Apabila anda memutuskan pergi ke Meko, muliakanlah Tuhan, saling mendukunglah melalui doa dan pujian-pujian. Kesehatan dan kesembuhan seluruhnya tergantung pada perkenan Tuhan. Tuhan pasti mengetahui apa yang paling baik bagi setiap anak-Nya. Rasul Paulus menyatakan bahwa ia telah berulangkali bermohon kepada Tuhan agar duri dalam tubuhnya dikeluarkan Tuhan, tetapi dia sendiri sadar ada manfaat dari duri di dalam dagingnya itu. Ia berkata, ”Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (2 Kor 12:7). Dengan iman Rasul Paulus mengatakan, ”Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ’Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:9-10). Walaupun tidak sembuh secara fisik namun Rasul Paulus menerima semuanya itu dengan pengucapan syukur sambil menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemberita Injil. Setiap masalah yang kita alami mengandung maksud Tuhan. Tuhan pasti punya rencana yang baik untuk setiap orang percaya. Dengan demikian bersandarlah pada kehendak Tuhan agar tidak menghakimi diri sendiri, lalu menjadi kecewa apabila belum ada kesembuhan secara fisik. Sebaliknya mereka yang kembali dari Meko dalam keadaan sembuh, baiklah dengan rendah hati menikmati karunia Allah yang telah dialami dan janganlah menganggap diri lebih bersih daripada yang lain. Yang utama dari semuanya ialah bahwa kita dapat memuliakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya dalam segala perkara.

5. Bagaimana seharusnya menilai Fenomena Meko? Seringkali orang menilai suatu fenomena berdasarkan atau dari perspektif kepentingan pribadinya. Artinya, bila kepentingannya terpenuhi di Meko, ia akan bersaksi dengan bersemangat bahwa fenomena Meko adalah mujizat dan kuasa Tuhan. Tetapi kalau tidak, ia akan memberitakan bahwa Meko adalah kepalsuan semata-mata. Namun, apabila kepentingan pribadi diletakkan dalam kerangka kepentingan bersama, maka ia tidak akan menutup mata melihat kenyataan adanya orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, penyakit kanker disembuhkan, dll. Firman Tuhan mengatakan, ”Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm 12:15) Sekalipun tidak semua orang mengalami kesembuhan fisik di Meko, kita patut mengakui bagaimana Tuhan telah mengubahkan hidup banyak orang yang datang ke sana. Adalah membesarkan hati bahwa banyak orang kembali dari Meko telah merasakan kekuatan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga bertobat dari kebiasaan hidup yang melawan kehendak Tuhan. Ada yang berhenti berjudi, ada yang mulai rajin ke gereja, ada yang mulai berhenti minum minuman beralkohol, ada yang berhenti merokok, mulai belajar hidup penuh kasih terhadap sesama manusia, ramah, mengampuni, dsb. Segala kemuliaan itu adalah bagi Tuhan Yesus Kristus yang telah mengurbankan Diri-Nya untuk kita manusia berdosa. Jadi, sebagai orang beriman kita patut bersukacita dan mengucap syukur kepada Tuhan, meskipun mungkin kita sendiri secara pribadi tidak memperoleh kesembuhan sebagaimana yang kita harapkan. Melalui Fenomena Meko ini kita dapat menemukan dan menikmati bahwa Tuhan Yesus yang kita imani itu memang Ada, Hidup, dan tetap Berkarya.

6. Haruskah datang ke Meko? Bukankah Tuhan hadir di sini juga? Benar, Tuhan hadir dan bekerja di mana saja dan kapan saja. Apabila anda merasa terpanggil untuk datang ke Meko ke sanalah. Tetapi kalau anda yakin Tuhan ada di sini, dan merasa tidak perlu ke Meko, pujilah Tuhan. Semua keputusan adalah keputusan pribadi, tanpa pengaruh, tanpa diajak, dan tanpa iming-iming. Seorang tunanetra yang menjadi organis pada ibadah minggu di Jemaat Galaxi Jakarta pada tanggal 20 Mei 2007, ketika ditanya oleh seorang Majelis Gereja, apa tidak ke Meko, siapa tahu Tuhan memberi kesembuhan, ia menjawab: “Saya khawatir kalau saya sembuh, semangat pelayanan saya dengan apa adanya saya sekarang berubah”. Ini pun sebuah sikap iman yang patut dihargai. Pada kenyataannya, memang jauh lebih banyak orang yang tidak datang ke Meko daripada yang sudah sempat datang. Memang patut juga dicatat bahwa tidak semua kita masih harus membutuhkan mujizat dulu baru bertobat dan setia-taat dalam iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman tidak harus selalu bergantung pada mujizat. Karena, pada dasarnya hidup yang Tuhan karuniakan kepada kita ini sendiri pun sesungguhnya adalah sebuah mujizat. Jadi, kita pun sungguh patut mengucap syukur kepada Tuhan kalau sudah demikian iman kita.

7. Bagaimana dengan bentuk ibadah dan puji-pujian yang dinyanyikan di Meko? Pengalaman beribadah warga Gereja Toraja yang sudah kembali dari Meko perlu mendapatkan bimbingan, arahan, penyaluran, dan pendampingan dari Majelis Gereja. Semangat beribadah yang tumbuh dalam hati setiap anak Tuhan dan yang dirasakan lebih menyentuh sampai di hati dan terasa mendekatkannya kepada Tuhan, perlu mendapat tempat dan tanggapan yang positif dalam ibadah Gereja Toraja. Peristiwa dan pengalaman Meko telah memberikan satu pesan yang penting untuk membangun kembali pemahaman kita tentang apa sesungguhnya gereja dan bergereja itu. Di sana, semua orang yang datang dari latar belakang yang berbeda (agama, suku, kampung, status sosial, dsb.) memasuki komunitas beribadah dengan hati yang kosong dan terbuka untuk diubah, dipulihkan, dan dibarui oleh kuasa Roh Kudus. Semua orang merasa sama di hadapan Tuhan. Semua orang tergerak untuk saling menolong, saling memberi tempat di tenda-tenda, saling memberi tempat di hati. Firman Tuhan yang dibacakan (tidak dikhotbahkan) langsung mempengaruhi sikap hidup orang. Tidak ada jurang antara firman Tuhan yang didengar dengan perilaku hidup di tenda-tenda (lokasi). Orang digerakkan dan bergerak saling mengasihi. Kuasa kasih yang dipraktikkan menyembuhkan dan memulihkan! (Bnd. Mzm. 133:1-3)

8. Apakah dan siapakah yang kita temui di Meko? Warga Gereja Toraja yang berencana pergi ke Meko, persiapkanlah diri dan seluruh keluarga dalam iman untuk mengalami kuasa dan kehadiran Allah. Syukurilah dan hayatilah anugerah dan pemeliharaan Allah yang sudah ada. Sebelum berangkat, berdoalah dan mintalah, apakah Tuhan berkenan anda datang ke sana? Berdamailah dengan semua orang! Berserah dirilah dan bersiaplah menerima apapun keputusan dan kehendak Tuhan. Ingatlah, Selvin, Ibu Mariati Sologi (ibu Selvin), dan daerah Meko hanyalah alat untuk tujuan tertentu dari Tuhan: Melalui mereka Tuhan menyatakan secara khusus dan istimewa tanda-tanda Kerajaan Allah. Salah satu bentuk penyembahan berhala adalah menjadikan alat menjadi tujuan. Oleh karena itu, Ibu Mariati Sologi berkali-kali menekankan bahwa dia bersama Selvin hanya alat Tuhan, dan yang memulihkan orang adalah iman dan pertobatan yang sungguh kepada Tuhan. Sikap sangat sederhana dan rendah hati yang dipraktikkan oleh Selvin dan Ibunya dalam melayani Tuhan dan umat-Nya yang datang ke Meko haruslah menjadi contoh untuk semua orang yang menganggap diri sebagai pelayan Tuhan dan/atau sebagai umat Tuhan.

9. Jadi bagaimana kesimpulannya? Penyembuhan dan pemulihan yang terjadi di Meko kita yakini sebagai Perbuatan Allah sendiri dengan tujuan tertentu. Yang terjadi sebagai dampak yang kelihatan ialah rekonsiliasi sosial, penyembuhan, dan pemulihan. Pemulihan penyakit fisik, pemulihan hubungan antar manusia (luka-luka sosial), dan pemulihan semangat iman yang akhir-akhir ini nampaknya cenderung dikalahkan dan ditelan oleh gelombang kegilaan terhadap materialisme, hedonisme, egoisme, fatalisme, apatisme, dan pementasan keangkuhan. Kalau anda yakin bahwa di Meko Allah menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya, lalu yakin dan rindu mengalami suasana itu bersama dengan semua orang yang datang ke sana, berdoalah sebelum mengambil keputusan untuk pergi. Tetapi sembuh dan tidak sembuh dari penyakit, semuanya tergantung pada kehendak Tuhan saja. Perlu tetap kita yakini bahwa kehadiran Tuhan dapat kita alami di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan kita memang ada dan tetap berkarya, baik di Meko maupun di semua tempat lain: Dalam rumah tangga, di desa-desa, di kota-kota, di tempat kerja, dalam perjalanan, dalam pergumulan, dalam masyarakat, di dalam dan di luar jam-jam ibadah, dan di mana-mana. Ia pun bekerja melalui Roh Kudus-Nya dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Taatlah dan bertobatlah senantiasa karena Tuhan ada di antara kita. Tuhan Yesus sudah berkata, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu“ (Luk. 17:21). Tuhan kita yang hidup itu kiranya memberkati kita semua.

Salam dan doa

Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

Ketua Umum,                                          Sekretaris Umum,
          Pdt. Soleman Batti’                                    Pdt. I.Y. Panggalo



"SUARA PENGGEMBALAAN 
- FENOMENA MEKO: PERBUATAN ALLAH! "

SEBUAH PERMENUNGAN

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1Tes.5:22)
oleh: Bpk. Pdt. DR.T.H.Kobong STh.

Suara Penggembalaan (SP) BPS Gereja Toraja tentang Fenomena Meko (FM) bisa dianggap bahwa BPS Gereja Toraja sudah melaksanakan nasihat/perintah rasul Paulus di atas. Tiga “pejabat teras” BPS telah datang ke Meko untuk langsung mengalami FM. Mereka telah mencoba memperoleh informasi dari berbagai pihak, termasuk dari pihak Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).

Setelah kita diberikan pemahaman tentang FM melalui 8 butir SP, maka butir 9 menyimpulkan pengalaman dan penghayatan mereka dengan anjuran kedua dari surat 1Tes.5:22 di atas. Di latarbelakang anjuran BPS agaknya tersirat bahwa semuanya boleh/ harus diuji, tetapi hanya yang baik yang perlu dipegang atau diteladani. Itu berarti bahwa kemungkinan ada pula unsur-unsur yang kurang baik atau kurang cocok untuk diterapkan di tempat lain.

Perkenankanlah saya memberikan beberapa catatan di bawah ini:

1. Di internet saya membaca beberapa pendapat baik yang pro, maupun yang kontra, bahkan yang anti FM. Ada yang menghalalkan sebagai penampakan kuasa Allah, ada yang mengharamkan sebagai kuasa Iblis. Kelompok yang pro hanya mau melihat yang baik-baik saja menurut pendapat dan perasaan mereka atau yang memenuhi keinginan dan harapan mereka pergi ke Meko, entah itu disembuhkan dari penyakit yang diderita, entah untuk melihat mujizat yang diperbuat Tuhan. Hal itupun terjadi di kala Yesus. Orang-orang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Yang menjadi ukuran ialah terpenuhinya keinginan manusia. Ingin melihat mujizat, apalagi disembuhkan dan dipulihkan dari penderitaan nyata. Itu sangat manusiawi.

Kelompok pro kurang mampu melihat pekerjaan Tuhan juga melalui ketidaksembuhan fisik, seperti kesembuhan spiritual, pemulihan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia tanpa sekat-sekat buatan manusia. Bukannya hal-hal itu tidak dialami atau tidak diakui, namun keinginan melihat atau mengalami mujizat penyembuhan mendominasi FM. Banyak orang yang ke sana konon tidak mengalami kesembuhan fisik, tetapi pemulihan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia pada umumnya diakui atau bahkan dialami.

2. Kelompok yang anti gerakan Roh di Meko terlalu gampang memberikan cap bahwa FM adalah pekerjaan Iblis, hanya oleh karena penyembuhan yang dilakukan Selvyn dan ibunya tidak dalam nama Yesus. Rupanya pendapat ini datangnya dari orang-orang yang pernah menyembuhkan atau disembuhkan dalam nama Yesus, seperti yang banyak terjadi di KKR-KKR. Namun perlu juga kita ketahui, bahwa Yesus sendiri pernah berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan”. Hal ini diucapkan kepada orang-orang yang menyodorkan jasa/ kuitansi kepada Yesus untuk masuk sorga, bahwa mereka sudah berbuat banyak demi nama Yesus. Orang-orang ini tidak dikenal Yesus, tetapi mereka sudah menjadikan “demi nama Yesus” sebagai rumus mantera yang sakti dan berada di luar relasi dengan Yesus. Jadi mereka yang anti FM karena tidak mengucapkan “dalam nama Yesus” harus pula hati-hati sambil mengintrospeksi diri (Mat.7:21-23). Jangan-jangan penolakan terhadap FM berlatarbelakang persaingan.

Saya tidak membela Selvyn dan ibunya, biarlah perbuatan dan sikap mereka sendiri yang membela mereka, sejauh mereka membuka diri untuk menjadi alat Tuhan. Atau mereka tidak perlu dibela, karena kalau Tuhan berkenan menggunakan mereka sebagai alat (medium), maka siapakah yang bisa mencegah mereka? Yang penting bagi orang percaya, bagi Selvyn dan ibunya, ialah apakah kita mampu melihat mujizat itu sebagai perbuatan Tuhan, dan dengan demikian bukan Selvyn dan ibunya yang manjadi fokus pemuliaan, melainkan Tuhanlah yang dimuliakan karena kuasa-Nya dan kasih-Nya yang menyembuhkan dan memulihkan.

Cukuplah sudah catatan saya ini dengan merujuk sepenuhnya kepada SP BPS Gereja Toraja. Bertolak dari SP itu maka saya mau mengatakan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Gereja Toraja).

3. Masih ada catatan lain sebagai akibat FM. What next? Follow up-nya yang penting.

Dari internet pula saya membaca dalam website BPS Gereja Toraja, bahwa di Rantepao telah diadakan Ibadah Syukur pada tgl. 31 Mei dan 1 Juni 2007 dengan dorongan dan partisipasi BPS (Pdt. Batti’ dan Panggalo). Memang kita harus bersyukur dalam segala perkara, termasuk mensyukuri FM serta akibatnya yang memuliakan Allah. Namun ada banyak hal yang perlu diuji, sehingga yang baik itu dipegang. Itu berarti bahwa tidak semua harus dipegang. Bahkan yang baik di Meko belum tentu otomatis baik di tempat lain. Kebaikannya harus diuji oleh keadaan setempat, spiritual, maupun social-budaya, dsb. Apakah semuanya itu memuliakan Allah?

Pada tgl. 29 April yang lalu saya mendengar khotbah di Rantepao yang menyinggung FM. Mudah-mudahan saya salah tangkap, tetapi yang saya tangkap ialah anjuran kepada jemaat untuk menghadirkan ibadah seperti di Meko yang penuh penyembahan dan penghayatan yang menyentuh. Saya terus terang langsung memikirkan liturgi Gereja Toraja. Muncul berbagai pertanyaan dalam benak saya. Apakah hal itu mungkin dilakukan? Tentu saja mungkin, tetapi apa konsekuensinya? Saya termasuk penggemar musik yang “baik” dan puji-pujian paduan suara. Tetapi apakah ibadah yang dilakukan seperti di Meko menjadi ukuran untuk menentukan sebuah ibadah itu sah, baik, berkenan kepada Tuhan, membangun iman jemaat, dsb. Apakah semua ibadah harus sama. Bukankah itu sebenarnya membatasi Tuhan, apakah itu tidak sama dengan orang Israel yang tidak bisa memuji Tuhan di tepi sungai Babel, yang mengurung Yahwe di bait Allah di Yerusalem? (Mzr.137).

Apakah soal-soal kebudayaan tidak ikut berperan di dalam cara kita beribadah? Banyak pertanyaan bisa muncul. Tidak perlu dan tidak bisa disangkal bahwa ibadah penyembuhan di Meko sudah membawa banyak berkat bagi banyak orang, yang disembuhkan secara fisik, maupun yang dipulihkan secara rohani. Tetapi bagaimanakah dengan ibadah-ibadah yang masih tetap menjadikan pelayanan firman Allah sebagai salah satu unsur ibadah yang (ter?)penting, walaupun liturgi adalah satu kesatuan, di manakah tempat doa syafaat, dsb. Di dalam ibadah kita berkomunikasi dengan Tuhan, Tuhan berbicara kepada umat-Nya, umat Tuhan memberikan berbagai respons. Cara manusia merespons sapaan Tuhan melalui firman-Nya dengan cara yang ada hubungannya dengan kebudayaan, dengan emosi, dsb. Di Meko terjadi komunikasi dengan Tuhan melalui kidung-kidung penyembahan, Tuhan merespons dengan kehadiran-Nya dalam bentuk penyembuhan dan pemulihan relasi dengan Tuhan dan sesama manusia.

Gereja Toraja sudah lama mempunyai lima bentuk liturgi/ibadah. Liturgi itupun belum tentu membuat setiap orang yang beribadah dibangun imannya. Bahkan konon jemaat-jemaat pedesaan masih sering dibingungkan. Kini sedang galak-galaknya jemaat-jemaat mengusahakan ibadah yang kreatif. Tentu semuanya itu ingin menjadikan ibadah hidup dan menyentuh, bukan hanya merupakan ibadah yang ritualistis dan sering pula serimonial belaka. Memang masih banyak hal yang perlu diperbarui di dalam kehidupan beriman kita, kehidupan bergereja. Yang penting ialah bagaimanakah caranya kita memuliakan Allah.

4. Mudah-mudahan catatan-catatan saya ini bisa dipertimbangkan untuk tidak terlalu emosional dipengaruhi oleh hal-hal yang relatif. Pasti Tuhan juga tidak mengingini ibadah yang kurang beraturan (1Kor.14:40). Rasul Paulus sangat prihatin tentang keutuhan jemaat Korintus. Itu pulalah hendaknya keprihatinan kita di dalam Gereja Toraja. Roh yang dari atas (Yes.32:15) pasti membarui apa yang perlu dibarui asal kita mau mengikuti-Nya. Veni Creator Spiritus Sanctus! (Datanglah ya Roh Kudus, Pembaru/Pencipta yang membarui).

Th.Kobong
05.06.07.

Postscriptum:
Pagi ini saya membuka internet dan menemukan laporan Pdt. Dr. I.Y. Panggalo tertanggal 5 Juni 2007 mengenai kebaktian syukur tgl. 31 Mei dan 1 Juni di halaman gereja Rantepao serta penampakan di gedung Gereja Katolik di Tikala. Apa yang bisa kita katakan tentang semuanya itu? Pertama, kita bersyukur karena Allah melawat umat-Nya, walaupun dianggap oleh sementara orang, bahwa itu adalah lawatan Iblis, karena tidak alkitabiah, jadi tidak sah. “Sebenarnya, dari indikasi dan gejala-gejala yang muncul, Ini adalah sebuah Fenomena Spiritisme” (demikian Pdt. DR. Hencoch F. Saerang mengakhiri tulisannya dalam fransnico.wordpress.com, 2007/04/18).

Itu adalah penilaian yang sangat negatif. Saya mendapat pula informasi dari seorang rekan pendeta bahwa di dalam Gereja Toraja sudah ada indikasi ke arah “polarisasi” antara yang pro dan yang kontra. Justru kepada kita diberikan kesempatan untuk memahami diri sebagai gereja. Tumpah ruahnya manusia ke ibadah syukur di Rantepao bisa kita fahami. Memang ada kehausan dan kerinduan mengalami kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita beriman. Mengapa tidak banyak orang ke kebaktian gereja? Mungkin karena di sana kehadiran Tuhan kurang dirasakan. Itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak hadir di dalam ibadah-ibadah kita di gereja. Hanya umat-Nya yang mungkin kurang peka melihat dan merasakan kehadiran-Nya. Itulah tugas gereja untuk membina umat agar belajar peka melihat dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam ibadah-ibadah dan bahkan bukan itu saja, kita harus peka akan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi kita. Itulah tugas pembinaan gereja yang terpenting. Konon FM mampu mempersatukan manusia dari berbagai denominasi di Meko, bahkan dari agama-agama yang berbeda, tanpa menganal sekat-sekat sosial, religius, etnis, bahkan orang-orang dari negara-negara lainpun datang ke Meko. Jadi FM mampu mempersatukan, lalu mengapa justru ada indikasi bahwa Meko bisa menyebabkan hal-hal yang tidak kita kehendaki di dalam Gereja Toraja. Jelas FM kita syukuri secara positif, tetapi harus kritis, kreatif, tetapi juga realistis. Apakah pola ibadah penyembuhan di Meko memang bisa diterapkan begitu saja dalam ibadah-ibadah menurut tradisi kita? Saya termasuk orang yang konservatif, tetapi juga kritis, mungkin tidak kreatif dan sering kurang realistis. Tetapi kalau kita mau membarui, maka sikap positif, kritis, kreatif dan realistis itulah yang harus menjadi pedoman kita dalam ketaatan kepada firman Allah. FM kita syukuri, kita sambut secara positif, tetapi kritis, kita kembangkan secara kreatif, tetapi realistis. Memang itu tidak mudah, tetapi itu tugas dan panggilan.

06.06.07.

Sumber: http://www.gerejatoraja.com

Be blessed more by reading all of this Sulawesi series! 
Diberkatilah lebih lagi dengan membaca seluruh serial Sulawesi ini!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Since 18 December 2010

free counters